Laman

Senin, 25 September 2017

Freunde

Friendship, apa itu pertemanan? Apakah sebuah ikatan yang lekang oleh waktu? Atau tak lekang oleh waktu? Semua bilang ada mantan pacar, mantan istri mantan suami tapi tak ada yang namanya mantan teman/mantan sahabat. Apakah aku punya teman? Ya, banyak. Apakah aku punya sahabat? Aku belum tau, coba tanyakan mereka. Apakah mereka menganggap aku sebagai temannya. Tapi kita coba ulik dulu apa itu sahabat, sahabat adalah sebuah ikatan antar teman namun lebih dari seorang teman dan kenalan. Sahabat adalah tempatmu berbagi selain keluarga, bisa dibilang sahabat adalah keluarga yang tak terhubung oleh darah. Bahkan beberapa hubungan persahabatan lebih kental dibandingkan hubungan keluarga. Sekarang kita telisik apa pentingnya memiliki sahabat. Disaat kamu membutuhkan seseorang namun bukan dari keluargamu tapi bukan juga teman yang hanya kamu sapa tiap harinya, maka kamu akan pergi kemana? Tentu pilihan yang tersisa hanya tinggal sahabat. Sahabat adalah dirimu yang lain, sahabat adalah orang yang selalu bersamamu disaat suka maupun duka. Sahabat ada bukan hanya disaat dirimu bahagia, namun juga selalu ada disaat duka terdalam.
Sekarang kamu bertanya apa aku punya? Tentu aku akan kesulitan menjawabnya, aku tak tahu apa aku yang terlalu sombong untuk menceritakan kesedihanku atau aku hanya merasa tak perlu untuk memberitahu karena merasa tak ada yang mau mendengar cerita sedihku? Sahabatku satu satunya hanya buku, aku menuliskan bahagia dan sedihku disana. Satu-satunya yang tahu semua tentang diriku. Yang bahkan tak ada seorangpun yang tahu. Aku hanya merasa semua temanku sudah mempunyai sahabatnya masing-masing dan aku tak menjadi bagian terdalamnya. Idealnya satu orang akan mempunyai satu sahabat yang merupakan dirinya yang lain. Tapi aku tak menemukannya untuk diriku, semua sudah memilikinya masing-masing. Mungkin dahulu aku terlalu sibuk memikirkan untuk mempunyai sebanyak mungkin teman dan melupakan untuk mencari satu sahabat yang akan selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkannya.

Aku memang bersyukur mempunyai teman-teman yang tanggap jika aku sedang kesusahan, namun aku selalu merasa bersalah tapi disisi yang lain aku juga menikmatinya. Terutama dengan A, N dan R. Dulu aku mempunyai orang yang tahu semua cerita-ceritaku, namun pada akhirnya sama seperti yang lain dia menghilang seiring pertemuan kami berkurang. Sepertinya benar saat orang bilang bahwa semakin tua temanmu hanyalah dirimu sendiri. sedih melihat cerita-cerita fiksi yang memperlihatkan persahabatan yang sangat dekat, aku tak tahu bagaimana itu rasanya. Setiap kebaikan yang aku terima rasanya menyakitkan, sakit rasanya menerima kebaikan atas rasa kasihan. Kini aku tahu rasanya orang-orang yang memiliki kekurangan dan marah jika merasa dikasihani. Karena sakit rasanya untuk tidak bisa melakukan apa yang seharusnya bisa kamu lakukan dan menerima bantuan atas rasa kasihan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar